|

Ke 18 Bule AS yang tergabung dalam Sight Ministries International (LSM dari Texas, AS yang peduli dengan kesehatan mata) ini beramai-ramai naik becak, Kamis 29 Juli 2010.
Mengambil start di depan hotel dimana mereka menginap (Country Heritage, Nginden Intan Utara), mereka menyarter 10 becak untuk berkeliling kampung di kawasan Nginden-Semolowaru dan sekitarnya.
Ide seru ini datang dari Daniel Lukas Rorong, aktifis di Yayasan Pondok Kasih. Daniel mengamati, selama aktifis SMI itu melakukan aksi sosial di Surabaya bersama Yayasan Pondok Kasih sejak Minggu-Rabu (25-28/7/2010) untuk melakukan pemeriksaan mata sekaligus bagi-bagi 2500 kacamata gratis untuk kaum papa di Surabaya, kegiatan sehari-hari mereka monoton.
Pagi, bule-bule itu dijemput dan diantar ke lokasi aksi sosial dengan naik mobil, lalu melakukan aksi sosial berupa pemeriksaan mata serta bagi-bagi kacamata gratis. Dan sore pun sama seperti itu, dijemput dan diantar kembali ke hotel, dimana mereka menginap.
“Kok, sepertinya tidak ada yang bisa dijadikan bahan cerita yang spesial buat saudara-saudara mereka disana (Amerika). Lalu, tercetuslah ide tersebut. Kenapa tidak naik becak saja? Kan, di Amerika sana, becak tidak ada,” ujar Daniel yang juga aktif di panggung politik ini.
Persiapan dengan waktu yang singkat akhirnya dikerjakan. Dan bule-bule itu pun bisa menceritakan pada sanak saudaranya di Amerika, betapa asyiknya naik becak dengan blusukan (melewati) kampung Nginden yang padat penduduknya, sekaligus menjadi “sarangnya” kos-kosan para mahasiswa. Karena berdekatan dengan beberapa universitas, sebut saja Unitomo, Untag dan Perbanas.
“Mumpung, becak masih belum dilarang di Surabaya. Ya, siapa tahu setelah ini, becak bisa menjadi sarana transportasi wisata bagi para turis mancanegara. Karena selain murah, becak juga bisa blusukan ke kampung-kampung. Serta dapat mengurangi polusi udara yang semakin parah di Surabaya,” kata Daniel.
Sepanjang perjalanan, para bule-bule itu mendapat sambutan hangat, mulai dari pejalan kaki, pengendara motor sampai siswa SD. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang berebutan untuk bersalaman sampai foto bareng. Tentu saja, bule-bule itu tidak keberatan, malah mereka sangat antusias membalas sambutan hangat tersebut.
“Good morning, mister! Mau kemana nih, pagi-pagi sudah naik becak?” sapa Agus (30) yang saat itu akan mengantarkan anaknya ke sekolah. Bahkan, Agus merelakan berhenti sejenak untuk menyalami bule-bule tersebut.
Tak ketinggalan, Ayu (20) mahasiswa Unitomo yang kos di Nginden 4 buru-buru mengambil kamera HPnya hanya sekadar untuk foto bersama salah satu bule cowok.
“Smile, mister!” kata Ayu yang kelihatan baru bangun tidur dan masih mengenakan baby dolls.
Sementara itu, Scott Settegast selaku Direktur Operasional Sight Ministries International (SMI) merasa sangat senang, karena masih sempat merasakan becak, transportasi tradisional beroda tiga khas Surabaya.
“Jika tahun depan kami ke Surabaya lagi untuk melakukan aksi sosial, kami ingin ke tempat-tempat bersejarah yang ada di Surabaya. Sekaligus wisata kuliner khas Surabaya,” kata Scott yang sudah diterjemahkan.
Selain 18 aktifis SMI, turut mendampingi bule-bule tersebut, Dr Hana Amalia Vandayani Ananda yang juga Ketua Yayasan Pondok Kasih (YPK). Hana yang juga sudah lama tidak merasakan asyiknya naik becak terlihat sangat menikmati sepanjang perjalanan.
“Kami berharap, dengan dipublikasikannya momen ini, dapat menarik minat para turis mancanegara untuk datang beramai-ramai ke Surabaya. Selain berwisata, mungkin saja di antara mereka ada yang tergerak hatinya untuk menjadi donatur di yayasan kami guna membantu ribuan kaum papa yang ada di Surabaya,” harap Hana Ananda yang pernah mendapatkan penghargaan Satya Lancana (2004-2005) dan Dharma Karya Kancana (2006) dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Yayasan Pondok Kasih sendiri sudah puluhan tahun melayani ribuan kaum papa di Surabaya. Bahkan sudah mendirikan komunitas-komunitas khususnya yang berlokasi di kawasan kumuh yang ada di Surabaya seperti Kuburan Kembang Kuning, Kuburan Rangkah, Lokalisasi Tambak Asri, Lokalisasi Jarak, TPS Sukolilo, dan Terminal Joyoboyo.
Setelah
menghabiskan waktu hampir 1 jam, wisata blusukan kampung
dengan naik becak ini pun berakhir kembali ke hotel dimana bule-bule
tersebut
menginap. Dan aktifis SMI itu pun harus buru-buru menuju Bandara Juanda
karena
pesawat mereka akan take-off pukul 10.00 WIB untuk membawa mereka
terbang
kembali ke Amerika. Tentunya, dengan membawa sejuta kenangan mengenai
Surabaya. (ali)

![]() CCTV Purabaya | ![]() Kutuk Yahudi |
![]() Berbagi Ceria Ramadhan | ![]() Berbagi Ceria Ramadhan |