Senin, 03 Mei 2010 - 23:18:39 WIBLaskar PelangiDiposting oleh : Redaksi
- Dibaca: 47 kali
Sukses film Laskar Pelangi dalam memecahkan rekor jumlah penonton
memberi pembelajaran bahwa penonton film Indonesia bisa menerima
inovasi. Mira Lesmana dari Miles Films yang memproduksi film ini
mengatakan, sampai Rabu (12/11), pemutaran Laskar Pelangi di 100 layar
bioskop di 25 kota menyedot lebih dari 4,4 juta penonton. Padahal,
Kamis kemarin, jumlah kota yang memutar film itu bertambah dengan
Padang, Tasikmalaya, dan Ambon. Sebelumnya, Ayat-ayat Cinta ditonton
3,7 juta penonton (Kompas, 26/10).
Jumlah penonton itu belum termasuk penonton layar tancap untuk menjangkau penonton di daerah yang belum memiliki gedung bioskop.
Menurut
Mira, layar tancap di tiga lokasi di Belitung, tempat cerita berlokasi,
menyedot penonton lebih dari 60.000 penonton dan di Bangka sekitar
80.000-an orang. Pemutaran layar tancap juga dilakukan di Rantau
(Sumatera Utara) dan akan dilakukan di Natuna, Aceh (enam lokasi),
Lombok, serta Papua di Timika, Sorong, dan Jayapura.
Kabar
gembira lainnya, film ini menjadi salah satu film yang terpilih untuk
menjadi bagian dari Berlin International Film Festival atau Berlinale
2009. Festival ini adalah sebuah peristiwa budaya terpenting di Jerman
yang juga adalah salah satu festival film internasional paling
bergengsi di dunia.
Film Laskar Pelangi diangkat dari novel
berjudul sama karya Andrea Hirata. Film ini mengangkat realitas sosial
masyarakat Belitung, tentang persahabatan, kegigihan dan harapan, dalam
bingkai kemiskinan dan ketimpangan kelas sosial.
"Jumlah
penonton dan panjangnya masa pemutaran film sejak 25 September
memperlihatkan penonton butuh sesuatu yang baru, yang inovatif, walau
yang ditampilkan realitas tidak gemerlap," papar Mira.
Selama
ini, kebanyakan film Indonesia bertema drama cinta, horor, dan komedi,
sementara Miles Films dalam empat film terakhirnya menggarap tema
realisme sosial-politik.
Mira mengakui, inovasi itu tidak selalu
berhasil secara komersial. Contohnya Gie, juga produksi Miles Films.
Meskipun dari sisi kritik film dan kreativitas bagus, tetapi tidak
sesukses Laskar Pelangi dalam pemasaran.
Produksi film ini
menghabiskan biaya Rp 9 miliar dan 90 persen dikerjakan di dalam
negeri. "Sound mixing dengan sistem Dolby dan transfer optis untuk
suara belum bisa dikerjakan di dalam negeri," ujar Mira.
Miles
Films dan para investor, antara lain Mizan Publishing, kini bersiap
memproduksi lanjutan Laskar Pelangi. Sang Pemimpi adalah bagian novel
tetralogi Andrea Hirata. (sumber: kompas.com)