|

Apa yang dicari Jupe, artis seksi tersohor, pada jabatan wakil bupati
yang gaji pokoknya dari negara Rp 1,8 juta itu?
Terkenal lewat
iklan kondom yang menggoda, Julia tahu betul memanfaatkan lekuk tubuhnya
di layar kaca. Bertualang lama di Perancis, Jupe pernah masuk nominator
100 top model di negeri dandan itu. Dia pernah menjadi model buat
majalah beken gaya hidup lelaki, FHM dan Maxim.
Namanya dikenal
di Indonesia sekitar 2002. Tapi kini nyaris semua film hiburan, dengan
adonan seks dan horor, memakai Jupe sebagai pemeran. Tercatat kurang
lebih 20 film dibintangi Jupe sejak 2007 sampai sekarang. Jupe seperti
sadar, bahwa tubuh yang permai adalah kekuatannya. “Julia Perez, alias
Julia Ngeres”, begitu dia menyebut dirinya dalam satu dialog di film
horor, Ter(e)kam (2010).
Lantaran namanya yang sohor itu, Ketua
Bidang Pemenangan Pemilu Hanura, Yuddy Chrisnandi, memilih Jupe sebagai
“alat dongkrak” suara calon bupati yang diusung Hanura di Pacitan. Yuddy
tak sembarang usul. Menurut survei independen, begitu kata Yuddy, Jupe
cocok menjadi calon kuat Wakil Bupati. “Berpasangan dengan artis itu,
tinggi elektabilitasnya," kata bekas politisi Golkar itu.
Lalu
merayaplah Jupe ke panggung politik. Agar niat kian kuat, Hanura mencari
dukungan dari tujuh partai. "Hanura sebagai pemimpin koalisi," ujar
Yuddy. Tujuh partai itu, antara lain Partai Amanat Nasional, Partai
Gerakan Indonesia Raya, Partai Bulan Bintang, dan sejumlah partai yang
gagal meraih kursi di DPRD Pacitan.
Tentu, suara sinis atas
pencolanan Jupe pun menyebar. Di internet, dan juga lewat telepon
seluler, beredar olok-olok bagi calon “Pacitan 2” itu. Gambar dia
memakai bikini, dengan lekuk tubuh teraksentuasi maksimal, beredar
dengan caption “Ini dia calon Wakil Bupati Pacitan”.
Ada gambar
lain, dan lebih “kurang ajar”. Di latar belakang ada sawah hijau
membentang, para petani lagi bekerja, dan logo Pemda Pacitan. Tapi ada
tulisan begini: “Mari GENGGAM masa depan untuk Pacitan. Kecup mesra
…Jupe”. Persis di dekat tulisan itu ada gambar Jupe berdiri. Dua
tangannya bersilang menutupi buah dadanya yang telanjang.
Barangkali,
apa yang belakangan disebut Jupe foto syur dia beredar sebagai black
campaign itu, menggusarkan Bima Arya Sugiarto, Ketua Bidang Komunikasi
Politik Partai Amanat Nasional. Bima kaget mendengar informasi PAN
Pacitan mendukung Julia Perez. Pencalonan Julia Perez tak sesuai visi
dan misi partai itu. DPP PAN, kata Bima, sudah menghubungi cabangnya di
Pacitan, dengan wanti-wanti tak lagi memunculkan wacana calon artis
yang berkonotasi negatif. “Karena akan merusak nama baik PAN," kata
Bima.
Pro dan kontra pun mencuat. Jika Bima Arya mengecam keras,
Wakil Ketua Umum PAN Dradjad Wibowo,membunyikannya lebih lunak.
Partainya, kata Dradjat, tidak mendiskriminasi siapa pun. PAN hanya
minta tiga syarat: integritas, kapasitas, dan elektabilitas. Jadi, tak
soal dia artis atau bukan. “Sepanjang prosesnya memenuhi mekanisme
organisasi, PAN akan mendorong seseorang maju dalam Pilkada,” ujar
Dradjad.
Jupe pun mulai belajar tenang menghadapi serangan.
Beredarnya foto syur seperti tadi, kata Jupe, termasuk black campaign.
“Biar orang yang melakukannya mendapat pahala,” ujar dia. Dia merasa
haknya dilindungi hukum, dan akan tetap maju ke politik.
Sebelumnya,
kasus seperti ini pernah terjadi pada Ayu Azhari, yang mau maju sebagai
wakil bupati Sukabumi. Pencalonan Ayu akhirnya batal pada Februari 2010
silam, ketika foto syurnya beredar luas. Sebagian adalah cuplikan
gambar Ayu dalam film “Without Mercy” (1995). Dalam cuplikan film itu,
ada adegan Ayu berhubungan seks dengan lelaki asing.
Pencalonan
Ayu yang tadinya didukung PDIP Sukabumi, tanpa ampun, akhirnya kandas.
***
BELUM
kelar heboh Jupe, mendadak muncul Maria Eva, seorang artis yang
sebetulnya kurang dikenal di layar lebar. Tapi, nama Maria pernah
melejit di media massa tatkala video “saru”-nya dengan politisi Golkar
Yahya Zaini beredar di masyarakat luas, tiga tahun silam.
Meski
digosipkan didukung tiga partai, Maria mengaku hanya mengantongi satu,
yaitu dari PAN. Dia digadang-gadang menjadi kandidat dalam pemilihan
kepala daerah Sidoarjo, Jawa Timur. “Aku wisuda Kamis, Jumat dilamar
oleh salah satu petinggi PAN Sidoarjo yang saat ini jadi calon,” kata
Maria Eva kepada VIVAnews. Maria baru saja menyelesaikan pendidikan
pasca sarjananya di Universitas Krisnadwipayana, Jakarta.
Lahir
di Sidoarjo, pemilik nama asli Maria Ulfah ini, menyebut keluarganya
sampai ke tingkat buyut pun lahir di sana dan dikubur di sana. “Kalau
meninggal aku juga mau dikubur di Sidoarjo,” kata Maria Eva.
Tentu
bagi Maria Eva, Sidoarjo yang berpendapatan daerah Rp 1,1 triliun pada
2009 itu, adalah kota penting. “Apa jadinya kalau Surabaya kalau tidak
ada Sidoarjo. Banyak sektor yang bisa dibangun seandainya aku maju,”
katanya. Dia lalu mengenang keindahan kota itu, masa kecilnya bermain di
tambak, dan betapa nikmatnya bandeng Sidoarjo.
Tapi sayangnya,
pencalonannya tak mendapat restu dari Dewan Pimpinan Pusat PAN. Setelah
perdebatan keras, akhirnya PAN Sidoarjo tak lagi menandu Maria Eva.
Mereka memilih Imam Sugiri. “Imam Sugiri yang diusung partai kami
mengikuti Pemilukada 2010," kata Zainul Lutfi, Ketua Tim 9 Penjaringan
Bakal Calon Bupati dan Bakal Calon Wakil Bupati Sidoarjo Dewan Pimpinan
Daerah PAN Sidoarjo.
Tak ada alasan kuat mengapa PAN menolak
Maria. “Aku nggak sempat nanya,” kata Maria Eva. Dia mengatakan salah
satu Ketua PAN Sodaorjo adalah adiknya. Tapi dia enggan bertanya lagi. “
“Awalnya saya nggak punya obsesi jadi Sidoarjo 1 atau 2. Tapi,
buru-buru meminang aku, buru-buru mereka lari, nggak apa-apalah. Namanya
juga pesta demokrasi.”
Tapi meski belum ada yang mencalonkan, gairah Maria Eva tetap membara
maju dalam pilkada nanti.
***
LATAR belakang sebagai
artis “panas” rupanya membuat langkah para calon ini tak mudah.
Misalkan, ada “hadangan” dari Jalan Medan Merdeka Utara, kantor
Kementerian Dalam Negeri.
Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi akan merevisi Undang-undang Pemerintahan Daerah, terutama soal larangan cacat moral mencalonkan diri dalam pilkada. Gamawan lalu menjelaskan maksud cacat moral itu. "Orang yang sudah berzina tidak boleh menjadi bupati," kata Gamawan di Istana Negara, Jakarta, Jumat 16 April 2010.
Dia meminta Komisi Pemilihan Umum lebih selektif. "Misalnya ada video
berzina, itu tidak boleh. Harus dibatalkan oleh KPU. Ada 16 syarat
(calon), misalnya dikenal dan mengenal. Saya dengar dulu ada video
selingkuh, belakangan muncul, itu sebenarnya tidak boleh," kata mantan
Bupati Solok dan Gubernur Sumatera Barat itu.
Gamawan mengakui 16
syarat calon Gubernur/Bupati masih belum cukup. Untuk itu perubahan
Undang Undang nanti akan memasukkan syarat pengalaman. "Jadi tidak tiba
tiba misalnya dia artis terkenal, tidak pernah berorganisasi, tidak
pernah memimpin partai, tidak pernah DPRD, tiba tiba muncul jadi calon
gubernur," katanya.
Apakah revisi ini untuk menjegal langkah Julia
Perez maju di pilkada? "Nggak. Nanti marah Jupe sama saya," kata
Gamawan.
Gamawan menambahkan, mereka yang menjadi kepala daerah
punya tanggung jawab hukum, politik, moril memajukan daerahnya. "Kalau
modal popularitas saja, apa itu pas," kata dia.
Kalangan parlemen tidak mendukung gagasan Gamawan ini. Ketua Fraksi
Demokrat Anas Urbaningrum misalnya menyatakan pada dasarnya di peraturan
pilkada sudah ada persyaratan berkelakuan baik. Jadi tidak perlu sampai
dibunyikan spesifik seperti itu (tidak pernah berzina). “Lagipula,
bagaimana cara mengetes seorang calon pernah berzina atau tidak?" kata
Anas.
Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
Tjahjo Kumolo juga tak sepakat melakukan revisi UU Pemerintahan Daerah
secara mendadak. Tjahjo menyatakan klausul moral seperti itu sudah
menjadi pertimbangan partai politik, sehingga tak perlu memasukkannya
lagi dalam undang-undang. “Apakah yang seperti itu pantas masuk
undang-undang?” Tjahjo bertanya.
Bahkan Partai Keadilan Sejahtera
yang berasas Islam pun tak setuju formalisasi itu. Mantan Ketua Fraksi
PKS Mahfudz Siddiq menyatakan, norma yang hendak diatur di undang-undang
jangan multitafsir. Harus jelas indikatornya, agar tak kisruh
belakangan. “Biarlah rakyat yang menilai soal moral si calon. Masyarakat
kan juga sudah cerdas. Tak perlu pakai instrumen," kata Mahfudz yang
terpilih sebagai anggota DPR dari daerah pemilihan Cirebon dan
sekitarnya itu.
Lalu apa kata Jupe? Pernyataan Mendagri itu
ditanggapinya santai. Dia tidak merasa cacat moral. Kalau pun aturan
baru itu masuk dalam UU yang berlaku saat ini, Jupe yakin bakal lolos
seleksi karena merasa tidak melanggar. "Saya tidak pernah melakukan
perzinaan," kata Jupe.
Perlu diingat, kata Jupe, tidak mudah
mengatakan seseorang berbuat zina. Setidaknya dibutuhkan keterangan,
atau putusan dari pengadilan. Selain itu, menurut ajaran Islam harus
dibuktikan minimal tiga saksi.
Sementara Maria Eva menyesalkan usulan Mendagri itu. "Omongan itu
tidak ada dasarnya,” kata mantan Wakil Bendahara Angkatan Muda
Pembaharuan Indonesia, underbouw Partai Golkar, itu. “Semua warga negara
mempunyai hak yang sama, baik itu pelacur sekalipun, untuk apapun,"
kata Maria Eva.
Soal video “saru”nya yang pernah menyebar luas,
Maria menolak aksinya bersama Yahya Zaini itu disebut berzina. “Saya
dulu nikah siri, dan kiai yang menikahkan kami mudah-mudahan masih ada,"
ujarnya kepada VIVAnews. Maria balik mengkritik. Kata dia, sebaiknya
aturan bagi calon peserta pilkada tidak menyerempet ke urusan pribadi.
Baginya yang penting, "Tidak pernah menggeranyangi uang rakyat," ujar
Maria Eva.
Lontaran Gamawan ini ditanggapi Koordinator Komite
Pemilih Indonesia, Jeirry Sumampouw, sebagai bentuk diskriminasi.
Menurut pengamat Pemilu ini, sebaiknya hak warga negara ikut pilkada
jangan dibatasi oleh aturan moral yang tak jelas indikatornya. Dia lebih
suka menyerahkan persoalan moral itu kepada pemilih.
Jeirry juga yakin jika Julia Perez maju sebagai calon Bupati, belum
tentu menang."Masyarakat sudah cerdas memilih siapa yang pantas jadi
pemimpin mereka," kata Jeirry.
***
BENARKAH rakyat sudah
cerdas memilih? Mantan Putri Indonesia, Angelina Sondakh,
membuktikannya. "Kebetulan saya menulis tesis tentang 'Pengaruh
Popularitas dan Kapabilitas dalam Elektabilitas'," ujar Angelina. "Dalam
penelitian saya itu, terbukti pengaruh popularitas hanya menyumbang
sekitar 16,3 persen terhadap tingkat keterpilihan."
Dalam diskusi
'Selebritas dalam Pilkada Bukan Sekadar Popularitas' di Gedung Dewan
Perwakilan Daerah, Jakarta, Rabu 14 April 2010, Angelina mencatat, dari
sekitar 96 nama selebriti yang maju dalam pilkada, hanya sekitar 11 saja
yang terpilih. Jadi, popularitas memang harus diimbangi oleh
kapabilitas. "Masyarakat tidak akan memilih figur yang populer saja,
tapi juga harus yang punya kompetensi," ujar Wakil Sekretaris Jenderal
Partai Demokrat itu.
"Khusus untuk Jupe, saya yakin dia memang
ingin maju, dan dia juga sadar bahwa populer saja tidak cukup. Oleh
karena itu, ia menggandeng Gusti Randa sebagai think tank-nya," kata
Angelina.
Tapi Peneliti Senior Lembaga Survei Indonesia (LSI),
Burhanuddin Muhtadi, menyatakan, artis masih bisa dipakai untuk merebut
suara di pedesaan. “Ini merupakan paradoks dan realitas politik yang
ada,” kata Burhan. Realitas ini terjadi karena ada keterputusan antara
partai dengan massa. “Padahal massa yang mengambang sangatlah besar,”
ujar Burhan.
Apakah itu pula alasan Jupe dan Maria Eva memilih
maju dari kabupaten, bukan perkotaan?
Tapi meski bukan perkotaan, dinamika Pacitan ternyata luar biasa. Misalnya, pada Rabu 21 April lalu, sekitar 20 organisasi kemasyarakatan termasuk Aisyiyah Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama dan Fatayat NU di Pacitan sepakat menolak Julia Perez sebagai calon dalam pilkada.
Aksi itu, kata klaim yang beredar, akan semakin membesar.
Vivanews :Tudji Martudji

![]() Papan Himbauan Purabaya | ![]() Penumpang KM Lawit |
![]() Penumpang KM Lawit | ![]() Mudik Kapal Laut |